Mengukur Kesiapan Brand Untuk Eksis Social Media

Posted in Internet Marketing Strategy by Arham

Mengukur kapasitas reputasi suatu brand dari kepemilikan website bukan lagi pilihan namun sudah menjadi keharusan meskipun ia baru sebatas UKM.  Tidak heran kalau kini kebanyakan perusahaan besar maupun perusahaan menengah dan kecil sudah memiliki situs korporat, wujud eksistensi didunia maya. Sayangnya, masih banyak yang hanya menekankan pada eksistensi semata di social media. Akibatnya website mereka tak ubahnya portfolio berwujud iklan, yang penting punya web, yang penting informasi seputar perusahaan bisa diakses. Kesimpulannya web perusahaan tidak ‘mampu’ menunjukan kompetensinya.

Memang beberapa marketer sudah melihat keikutsertaan di social media sebagai langkah strategis, namun masih banyak yang ragu, bahwa dengan keberadaan mereka di social media akan membawa benefit. Sehingga tak sedikit yang panik mengukur kesiapan internal perusahaan sebelum eksis di social media.

Celakanya perusahaan yang sedang tumbuh pun ikut ikutan tersudut kaku, padahal mereka harusnya bisa lebih lincah mengambil tindakan. Misalnya, bagi perusahaan media cetak yang memang terbiasa dengan media offline memang bukan perkara mudah menentukan sikap. Apakah harus goes online atau malah membangun kekuatan sebelum melakukan lompatan quantum pada media sosial.

Sesungguhnya media cetak di Indonesia memang belum ada kasus tertutupnya sebuah brand media informasi akibat media online, namun hal ini sebenarnya dikarenakan kultur pembaca dan dinamika media pemberitaan Indonesia memiliki warna yang khas dihati pembacanya.

Fakta fakta ini bukan berarti membuat media offline bebas waspada, namun sudah sepatutnya sejumlah brand media cetak mempersiapkan diri terhadap perubahan kulture pembaca yang tak lama lagi akan berubah pola akibat aktivitas pembaca yang semakin menikmati social media. Setidaknya ada 3 critical point, kenapa brand wajib mengukur kesiapannya dan segera eksis secara utuh juga ber-social media marketing ria:

Search Engine Behavior

Di era sekarang ini fungsi yellow pages mungkin masih bisa berjalan dengan baik, namun jika melihat pada kota kota besar dan daerah yang tingkat pemuasan teknologinya pesat maka pemenuhan informasi akan diisi lewat internet. Pola kebiasaan ‘purba’ para professional yang masih berlangsung bahkan semakin ‘parah’ adalah mereka akan menanyakan apapun via Google. Kalau sudah begini, apa boleh buat baik perusahaan pemula ataupun brand besar harus bisa hadir didekat pembacanya berdasarkan tingkah pola audience.

Di Internet eksistensi perusahaan atau merek berupa situs web atau jejaring sosial saja tidak cukup. Eksis tapi sulit ditemukan di search engine jelas mengurangi kredibilitas dan eksistensi perusahaan atau brand di dunia maya. Maka, brand wajib terlihat pembacanya ketika audience beraktivitas di social media dan brand juga wajib menunjukan dirinya terlihat di hasil pencarian google berdasarkan kompetensinya, bukan malah muncul karena nama domainnya.

Social Media Communication

Percakapan horisontal di media sosial harus dilakukan dengan memposisikan brand sebagai teman, bukan malah mencekoki pembacanya. Selaku brand yang aktif di social media harus mampu menciptakan dirinya  dengan character layaknya personal bukan brand yang tidak berjiwa yang tidak bershabat. Percakapan yang  jujur dan bersahabat bukan saja dapat menciptakan komunitas dan communal activation yang solid namun juga membantu pembentukan online reputation dan brand image didunia nyata yang positif secara collaboration.

Sales Force Approachment is Real Currency

Seth Godin, Beberapa hal yang dikritik nya adalah pola pemasaran yang tidak efektif. Masih banyak marketer yang membaca tampil eksis di online hanya untuk meningkatkan image dan prestidge tanpa ada sales value yang bisa diharapkan. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun bukan karena medianya yang tidak tepat untuk terjadinya sales tapi pada cara cara pendekatan oldies marketer yang tidak lagi relevan dengan pola prosumen saat ini.

Social media bukanlah televisi apalagi majalah ataupun koran, sesuai dengan kata dasarnya ’social’ yaitu tempat bersosialisasi, tempat berkomunikasi. Pendeknya sales force bukan tercipta dengan seringnya iklan dilihat oleh user yang sama namun ditentukan bagaimana anda berkomunikasi dan memberi service sehingga menghasilkan testimonial yang menjual dari prosumen (produsen-konsumen). It’s totally depend on your real currency.

-

It’s not about JUST EXISTING Online, Its about being FEARLESS TO BEING Online.

“Kalau sulit ditemukan apalah gunanya online?”, “Kalau takut bekerjasama dengan audience membangun reputasi yang lebih baik untuk apa memiliki website?”. “Kalau belum memahami konsep commercialization kenapa tidak memulai lebih serius?”.

Maka, lengkapilah strategi eksistensi kita, caranya? jangan takut untuk eksis dengan masukkan budget Search Engine Marketing dan pelajari pola penjualan secara online, sebelum terlambat.

Di Internet, eksistensi perusahaan atau merek berupa situs web atau jejaring sosial saja tidak cukup. Eksis tapi sulit ditemukan di search engine jelas mengurangi eksistensi perusahaan atau merek di dunia maya.

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

2 Responses to “Mengukur Kesiapan Brand Untuk Eksis Social Media”

  1. bee says:

    kalau takut gagal, Brand ga akan terbentuk…

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment